Tugas terstruktur 10

 

Analisis Kasus Implementasi Produksi Berkelanjutan

A. Profil Perusahaan dan Latar Belakang

Nama & Sektor:
Unilever — perusahaan multinasional sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Produk/Jasa Utama:
Produk makanan & minuman (mis. Knorr, Royco), perawatan pribadi (Dove, Sunsilk), dan produk rumah tangga (Sunlight, Rin).

Motivasi Adopsi Produksi Berkelanjutan:
Unilever mengadopsi produksi berkelanjutan sebagai respons terhadap tekanan lingkungan global, perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, serta meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk yang etis dan ramah lingkungan. Melalui Unilever Sustainable Living Plan (USLP) yang kemudian diperkuat dengan Compass Strategy, Unilever menargetkan pertumbuhan bisnis yang terpisah dari peningkatan dampak lingkungan (decoupling growth from environmental impact) serta komitmen net zero emissions pada 2039.

B. Strategi Keberlanjutan yang Digunakan

Strategi 1: Produksi Berbasis Ekonomi Sirkular & Pengurangan Limbah

Unilever menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengurangi penggunaan plastik virgin, meningkatkan kemasan yang dapat didaur ulang, serta mengembangkan sistem refill dan reusable packaging. Perusahaan menargetkan 100% kemasan plastik dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dapat dikomposkan, serta mengurangi setengah penggunaan plastik virgin.

Kaitan dengan SCP:
Strategi ini mendukung Sustainable Consumption and Production melalui pengurangan limbah plastik, efisiensi penggunaan material, dan penurunan dampak siklus hidup produk.

Strategi 2: Dekarbonisasi Operasional & Energi Terbarukan

Unilever secara aktif menurunkan emisi karbon dari operasional pabrik dengan meningkatkan efisiensi energi, penggunaan teknologi bersih, serta transisi ke energi terbarukan. Banyak fasilitas produksi Unilever telah mencapai zero waste to landfill dan menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.

Kaitan dengan SCP:
Mendorong produksi yang lebih bersih, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan efisiensi energi di sektor manufaktur.

Strategi 3: Keberlanjutan Rantai Pasok (Sustainable Sourcing)

Unilever menerapkan kebijakan Responsible Sourcing Policy, memastikan bahan baku seperti minyak sawit, teh, dan kedelai diperoleh dari sumber berkelanjutan dan tersertifikasi. Perusahaan juga bekerja sama dengan petani kecil untuk meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan.

Kaitan dengan SCP:
Mendorong konsumsi dan produksi berkelanjutan dari hulu ke hilir, termasuk aspek sosial dan lingkungan dalam rantai pasok.

C. Indikator Keberlanjutan (Triple Bottom Line)

Indikator Lingkungan (Planet)

  • Pengurangan emisi karbon: Unilever berhasil menurunkan emisi operasional (Scope 1 & 2) secara signifikan sejak baseline awal 2010-an.

  • Energi terbarukan: Sebagian besar fasilitas manufaktur menggunakan listrik dari energi terbarukan.

  • Pengelolaan limbah: Ratusan pabrik Unilever telah mencapai status zero waste to landfill.

Indikator Ekonomi (Profit)

  • Pertumbuhan merek berkelanjutan: Brand yang dikategorikan sebagai sustainable living brands (misalnya Dove dan Lifebuoy) terbukti tumbuh lebih cepat dibandingkan brand konvensional.

  • Efisiensi biaya: Pengurangan energi, air, dan limbah menghasilkan penghematan biaya operasional jangka panjang.

  • Kepercayaan pasar: Reputasi keberlanjutan memperkuat loyalitas konsumen dan menarik investor berbasis ESG.

Indikator Sosial (People)

  • Kesejahteraan tenaga kerja: Program kesehatan, keselamatan, dan pengembangan keterampilan karyawan di seluruh rantai nilai.

  • Pemberdayaan petani & UMKM: Pendampingan petani kecil untuk meningkatkan pendapatan dan praktik pertanian berkelanjutan.

  • Kesetaraan & inklusi: Komitmen terhadap kesetaraan gender dan hak asasi manusia di tempat kerja.

D. Dampak dan Evaluasi Hasil

Dampak Positif

  • Lingkungan: Penurunan emisi, limbah, dan konsumsi sumber daya di fasilitas produksi.

  • Sosial & Pasar: Peningkatan reputasi sebagai perusahaan bertanggung jawab dan meningkatnya permintaan terhadap produk berkelanjutan.

  • Bisnis: Keberlanjutan terbukti menjadi pendorong pertumbuhan dan diferensiasi merek.

Tantangan / Kendala Terbesar

  • Scope 3 Emissions: Emisi dari rantai pasok dan penggunaan produk oleh konsumen masih menjadi tantangan terbesar.

  • Perubahan perilaku konsumen: Transisi ke kemasan refill atau reusable membutuhkan edukasi dan penerimaan pasar.

Evaluasi Kritis

Unilever merupakan contoh kuat bagaimana perusahaan FMCG skala global dapat mengintegrasikan produksi berkelanjutan ke dalam strategi bisnis inti. Kekuatan utamanya terletak pada pendekatan sistemik terhadap rantai pasok dan keterkaitan antara keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis. Namun, tantangan utama tetap pada pengurangan emisi scope 3 dan memastikan transparansi kuantitatif indikator sosial secara konsisten. Secara keseluruhan, strategi Unilever efektif dan dapat dijadikan benchmark produksi berkelanjutan di industri barang konsumsi.

Daftar Pustaka

  • Unilever — Sustainable Living & ESG Reports (situs resmi Unilever).

  • Unilever — Compass Strategy & Net Zero Commitment.

  • Publikasi dan ringkasan laporan keberlanjutan Unilever oleh media dan lembaga ESG internasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Efisiensi ke Keberlanjutan: Sebuah Renungan tentang Tugas Insinyur Industri

Hubungan Manusia, Teknologi, dan Alam dalam Sistem Industri Laundry Kiloan