Tugas Terstruktur 11
GREEN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (GSCM)
Studi Kasus: Kopi Kaleng
1. Pendahuluan (Latar Belakang dan Pemilihan Produk)
Produk yang dipilih dalam studi kasus ini adalah kopi kaleng, yang termasuk dalam kategori minuman kemasan siap minum (Ready-to-Drink/RTD). Kopi kaleng dipilih karena mengalami pertumbuhan konsumsi yang pesat di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat urban dan generasi muda yang mengutamakan kepraktisan. Meskipun memberikan nilai ekonomi dan kemudahan bagi konsumen, kopi kaleng memiliki rantai pasok yang kompleks dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Dampak tersebut meliputi penggunaan aluminium untuk kemasan, konsumsi energi tinggi dalam proses produksi dan sterilisasi, emisi karbon dari transportasi, serta timbulan limbah kaleng pascakonsumsi. Oleh karena itu, kopi kaleng menjadi objek yang relevan untuk dianalisis dalam konteks Green Supply Chain Management (GSCM).
2. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional
A. Pemetaan Tahapan Rantai Pasok
1. Pengadaan Bahan Baku (Sourcing)
-
Biji kopi berasal dari perkebunan kopi (arabika/robusta)
-
Aluminium untuk kemasan kaleng (berbasis bauksit)
-
Bahan tambahan: gula, susu, perisa, dan lapisan pelindung bagian dalam kaleng
2. Produksi / Manufaktur
-
Proses pengolahan biji kopi (roasting dan ekstraksi)
-
Proses pencampuran bahan (kopi, air, gula, susu)
-
Pengisian ke dalam kaleng, penutupan, dan sterilisasi suhu tinggi
-
Konsumsi energi listrik dan panas relatif tinggi
3. Logistik Masuk & Keluar (Inbound & Outbound Logistics)
-
Bahan baku diangkut menggunakan truk berbahan bakar fosil
-
Produk kopi kaleng didistribusikan dalam jumlah besar ke berbagai wilayah
4. Distribusi & Ritel
-
Produk disimpan di gudang distributor
-
Dijual melalui minimarket, supermarket, vending machine, dan warung
5. Akhir Masa Pakai (End-of-Life)
-
Kaleng dibuang oleh konsumen setelah digunakan
-
Sebagian dikumpulkan oleh pemulung dan didaur ulang
-
Sebagian lainnya berakhir di TPA atau lingkungan
3. Analisis Dampak Lingkungan
Berdasarkan
pemetaan rantai pasok konvensional kopi kaleng, terdapat dua titik kritis utama
yang memberikan dampak lingkungan terbesar.
|
Titik
Kritis |
Contoh
Masalah Lingkungan |
|
Pengadaan
Kemasan Aluminium |
Penambangan
bauksit dan produksi aluminium sangat intensif energi dan menghasilkan emisi
CO₂ tinggi |
|
Proses
Produksi |
Sterilisasi
suhu tinggi dan penggunaan mesin industri meningkatkan konsumsi energi |
4. Usulan Strategi Green Supply Chain Management (GSCM)
Berikut
strategi perbaikan yang spesifik dan terukur berdasarkan prinsip GSCM.
|
Elemen |
Penjelasan |
|
Prinsip
GSCM |
Pengadaan
Hijau (Green Sourcing) |
|
Deskripsi
Strategi |
Menggunakan
minimal 60% aluminium daur ulang (recycled aluminum) untuk kemasan kopi
kaleng |
|
Implementasi |
Menjalin
kerja sama dengan pemasok aluminium daur ulang dan melakukan audit
keberlanjutan pemasok |
|
Manfaat
Lingkungan |
Menurunkan
emisi karbon produksi aluminium hingga >90% dibanding aluminium virgin
serta mengurangi limbah kemasan |
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Rantai
pasok konvensional kopi kaleng masih memberikan dampak lingkungan yang
signifikan, terutama pada tahap pengadaan kemasan aluminium dan konsumsi energi
dalam proses produksi. Namun, melalui penerapan prinsip Green Supply Chain
Management, seperti penggunaan aluminium daur ulang, efisiensi energi
produksi, serta peningkatan sistem daur ulang pascakonsumsi, dampak lingkungan
tersebut dapat dikurangi secara substansial. Oleh karena itu, produsen kopi
kaleng disarankan untuk mengintegrasikan strategi GSCM secara menyeluruh
sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan dan daya saing jangka panjang di
industri minuman siap minum.
6. Daftar Pustaka
Srivastava,
S. K. (2007). Green supply‐chain management: A state‐of‐the‐art literature
review. International Journal of Management Reviews.
Seuring, S., & Müller, M. (2008). From a literature review to a
conceptual framework for sustainable supply chain management. Journal of
Cleaner Production.
Zhu, Q., Sarkis, J., & Lai, K. H. (2012). Green supply chain management
innovation diffusion and its relationship to organizational improvement.
International Journal of Production Economics.
Komentar
Posting Komentar