Tugas terstruktur 5

 

Diagram Siklus Hidup Produk: Deterjen Cair

Produk: Deterjen cair berbahan surfaktan sintetis

Batas sistem:

Mencakup seluruh rantai proses mulai dari ekstraksi bahan baku, produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah kemasan. Analisis meliputi transportasi, konsumsi energi, penggunaan air, dan potensi daur ulang kemasan.

Asumsi Sistem

  • Masa pakai produk: ±1 bulan per botol (±1 liter)

  • Bahan utama: surfaktan sintetis (LAS/SLES), air, builder, pewangi, dan pewarna

  • Jenis kemasan: botol plastik HDPE dengan tutup ulir

  • Skenario akhir hayat: 35% botol didaur ulang, 65% berakhir di TPA

  • Transportasi: truk berbahan bakar solar

  • Energi pabrik: listrik PLN (dominan berbasis batu bara)

Narasi Analisis

Produk yang dianalisis adalah deterjen cair, karena merupakan produk rumah tangga yang digunakan secara rutin hampir setiap hari. Pemilihan deterjen cair relevan dalam kajian keberlanjutan mengingat tingginya konsumsi air, penggunaan bahan kimia sintetis, serta limbah kemasan plastik yang dihasilkan secara kontinu. Deterjen cair menjadi contoh produk sehari-hari dengan dampak lingkungan signifikan sepanjang siklus hidupnya.

Batas Sistem

Analisis siklus hidup ini mencakup seluruh tahapan mulai dari ekstraksi bahan baku hingga tahap pasca-konsumsi. Sistem dibatasi pada pengelolaan limbah kemasan dan limbah cair hasil pencucian. Transportasi bahan baku dan distribusi produk juga dimasukkan karena berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Tahap 1: Ekstraksi Bahan Baku

Tahap awal melibatkan produksi surfaktan sintetis yang berasal dari minyak bumi atau minyak nabati terproses. Dampak lingkungan utama berasal dari eksploitasi sumber daya alam, konsumsi energi tinggi, serta emisi karbon dan limbah kimia dari proses produksi bahan aktif deterjen. Bahan tambahan seperti pewangi dan pewarna sintetis juga meningkatkan beban lingkungan.

Tahap 2: Produksi

Proses produksi deterjen cair meliputi pencampuran surfaktan, air, dan bahan aditif menggunakan energi listrik dalam jumlah besar. Limbah cair dari proses pencucian tangki berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak diolah secara optimal. Selain itu, produksi botol plastik HDPE menambah dampak lingkungan karena berbasis petrokimia dan intensif energi.

Tahap 3: Distribusi

Distribusi deterjen cair dilakukan menggunakan kendaraan berbahan bakar solar dari pabrik ke distributor dan ritel. Dampak utama pada tahap ini adalah emisi CO₂ dan konsumsi bahan bakar fosil, yang meningkat seiring jauhnya jarak distribusi.

Tahap 4: Konsumsi

Pada tahap penggunaan, deterjen cair menghasilkan limbah cair yang langsung masuk ke saluran pembuangan. Kandungan surfaktan, fosfat, dan pewangi dapat mencemari badan air serta mengganggu ekosistem perairan apabila tidak diolah dengan baik. Selain itu, konsumsi air dan energi selama proses mencuci turut meningkatkan jejak lingkungan produk.

Tahap 5: Pengelolaan Limbah

Setelah habis digunakan, kemasan deterjen cair menjadi limbah plastik. Sebagian kecil didaur ulang, namun mayoritas berakhir di TPA dan berpotensi menjadi mikroplastik. Limbah deterjen yang terbuang ke lingkungan juga dapat meningkatkan beban pencemaran air jika tidak melalui instalasi pengolahan limbah yang memadai.

Refleksi Desain Ulang

Untuk mengurangi dampak lingkungan, deterjen cair dapat didesain ulang dengan pendekatan eco-design, antara lain:

  • Menggunakan surfaktan ramah lingkungan dan mudah terurai (biodegradable).

  • Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya seperti fosfat.

  • Mengembangkan kemasan isi ulang (refill) dan konsentrat untuk mengurangi limbah plastik.

  • Menerapkan produksi hijau dengan energi terbarukan.

  • Mengedukasi konsumen agar menggunakan deterjen sesuai takaran dan mengelola limbah dengan baik.

Dengan perbaikan pada seluruh tahapan siklus hidup, deterjen cair dapat menjadi produk yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Sumber

  • Fitriyani, D., & Rachman, I. (2023). Penilaian Kinerja Berkelanjutan Produk Rumah Tangga dengan Metode Life Cycle Analysis (LCA).

  • Pizzol, M., & Venditti, S. (2023). Environmental Impacts of Household Detergents: An LCA Perspective. Sustainability, 15(12).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Efisiensi ke Keberlanjutan: Sebuah Renungan tentang Tugas Insinyur Industri

Hubungan Manusia, Teknologi, dan Alam dalam Sistem Industri Laundry Kiloan